Syekh Ahmad Al-Mutamakkin Antara Protagonis dan Waliyullah
A. Syekh Mutamakkin
Siapakah Syekh Ahmad Al-Muamakkin?
Ahmad Al-Mutamakkin adalah protagonis ketiga terpenting dalam Serat Cabolek.
Serat Cabolek adalah satu-satunya sumber tentang Al-mutamakkin. Namanya tidak
disebut dalam sumber-sumber lain yang di tulis pada abad ke-18, tidak juga
sumber VOC. Oleh karena itu, kita harus bersandar sepenuhnya pada Serat Cabolek
dan local histories seperti dituturkan masyarakat setempat. Dalam bukunya
paradigma islam, Kuntowijoyo, sejarawan indonesia menganalisa Serat Cebolek
tanpa cross-refrensi dari local histories. Oleh karenanya, refleksi atas
pengaruh dan pemikiran Al-Mutamakkin yang sekarang bahkan menjadi semangat
generasi penerusnya akan memberikan kerangka penilaian untuk mengatakan bahwa
apakah ia seorang pembangkang syari’ah (protagonis)sebagaimana yang dituduhkan
kepadanya, ataukah justru seorang waliyullah sebagaimana diyakini masayrakat
setempat sebagai seorang tokoh sufistik suci yang memperjuangkan agama rakyat.
B. Silsilah dan Mitos Syekh Al-Mutamakkin
Menurt KH.
Abdurrahman Wahid (Gusdur), Al-Mutamakkin berasal dari Persia (Zabul) Propinsi
Krasan, Iran Selatan.
Akan tetapi silsilah yang umum dipercaya masyarakat setempat menyatakan, ia
keturunan bangsawan jawa. Sedangkan menurut catatan dari local historis,
Al-Mutamakkin dari garis bapak adalah keturunan Raden Patah (Raja Demak) yang
berasal dari Sultan Trenggono. Sedangkan dari garis Ibu, keturunan dari sunan
Bejagung, Tuban Jawa Timur melalui Sayid Ali Akbar berputra Sayid Ali Ashgar.
Sayyid ini mempunyai putra bernama Raden Tanu, dan Raden Tanu mempunyai seorang
putri yang menjadi ibunda Al-Mutamakkin. Dipercayai bahwa Al-Mutamakkin adalah
keturunan raja Jawa Jaka Tingkir, cicit Raja Majapahit terakhir, Brawijaya V.
Ayah Al-Mutamakkin (Sumohadiwijaya) adalah Pangeran Benawa II (R.
Sumohadinegara) bin Pangeran Benawa I (R.Hadiningrat) bin Jaka Tingkir (Sultan
Hadiwijaya) bin Ki Ageng Pengging bin Ratu Pambayun binti Prabu Brawijaya V,
raja majapahit terakhir. Ratu Pambayun adalah saudara perempuan Raden Patah.
Istri Jaka Tingkir adalah Putri Sultan Trenggono bin Raden Fatah, Raja Demak.
Lihat bagan silsilah.
Menurut
sumber lain, Al-Mutamakkin juga mempunyai garis keturunan langsung dengan Nabi
Muhammad saw. Silisilah Al-Mutamakkin menunjukkan pertemuannya dengan nabi
melalui garis; Al-Mutamakkin ibn Sumahadinegara ibn Sunan Benawa ibn
Abdurrahman Basyaiban ibn Sayyid Umar ibn Sunan Sayyid Muhammad ibn Sayyid
Ahmad ibn Sayyid Abu Bakar Basayaiban ibn Sayyid Muhammad Asadullah ibn Sayyid
Husain At Turaby ibn Sayyid Aly ibn Sayyid Muhammad Al Faqih Al Muqaddam ibn
Sayyid Aly ibn Sayyid Muhammad Shahibal Murbath ibn Sayyid Aly Khali’ Qasimibn
Sayyid Alwy ibn Sayyid Muhammad ibn Sayyid Alwy ibn Imam ‘Ubaidullah ibn Imam
Ahmad Al Muhajir ila Allah
ibn Imam ‘Isa an Naqib ibn Imam Muhammad an Naqib ibn Imam Alwy al Uraidhi ibn
Imam ja’far Shodiq ibn Imam Muhammad al Baqir ibn Imam Al Zainal Abdidin ibn
Sayyidina husain ibn Fathimah Az Zahra binti Sayyidina Muhammad SAW.
Silsilah lain
berbeda pada tingkat Sayyid Alwy ke bawah. Silsilah ini Al-Mutamakkin ibn
Sumahadinegara ibn Sunan Benawa ibn Putri Sultan Trenggono binti Sultan
Trenggono ibn Istri Raden Patah binti Maulana Rahmat ibn Maulana Ibrahim ibn Jamauldin
Husaen ibn Sayyid Ahmad Syaah ibn Sayyid ‘Abdullah ibn Sayyid Amir Abd al-Malik
ibn Sayyid Alwi dan seterusnya seperti silsilah di atas. Untuk lebih jelas lihat
bagan.
Telah
disebutkan dalam bab sebelumnya, bahwa Pangeran Benawa II pada tahun 1617
melarikan diri ke Giri untuk minta suaka politik atas serangan Mataram.
Diceritakan juga tentang Adipati Tuban yang menjalin hubungan kekerabatan
dengan Pangeran Benawa II. Maka dapat diasumsikan bahwa hasil dari perkawinan
itu lahir sumahadiwijaya (nama ningrat Al-Mutamakkin). Tahun kelahirannya tidak
diketahui secara tepat. Tapi jika diperkirakan usiannya sampai 90-an, maka
kelahirannya sekitar tahun 1645-an. Tapi jika benar ia putra Pangeran Benawa II,
pada tahun 1645-an usia ayahnya sudah sampai 55-an. Oleh karenanya, masih
diperlukan pelacakan yang lebih cermat tentang penanggalan dan silsilahnya.
Ia dilahirkan
di Desa Cabolek, 10 km dari kota Tuban, maka Mutamakkin sebenarnya adalah gelar
yang ia dapatkan sepulang dari rihlah ilmiahnya di Timur Tengah. Al-Mutamakkin
diambil dari bahasa Arab yang artinya orang yang meneguhkan hati atau diyakini
akan kesuciannya.
Di desa
Cebolek-Tuban, Al-Mutamakkin menghabiskan usia mudanya. Penulis kisah
Perjuangan Syekh KH. Al-Mutamakkin, H.M.Imam Sanusi pernah mengecek
keberadaan desa Cebolek di Tuban peninggalannya berupa Masjid Winong. Masjid
tersebut tepat berada di tepi sungai. Pelacakan secara dalam mendalami
kesulitan karena masjid sudah berkali-kali di pagar akibat seringnya dilanda banjir
besar. Di dalam masjid tersebut terdapat klebut (kayu berbentunk lonjong
agak bulat, yang dipergunakan untuk menjemur kopiyah /Peci haji) dan batu kecil
berbentuk asbak. Di depan masjid terdapat pohon sawo kecik yang cukup
besar yang diyakini terdapat sebuah keris pusaka Al-Mutamakkin. Desa sunyi
senyap dan banyak penyamunya ini, berkat usaha A. Al-Mutamakkin menjadi desa
yang penuh damai dan sejahtera.
Diceritakan
pada akhir abad ke-17, hubungan Tuban dan Pati dengan daerah banten Jawa barat
dapat dilihat dari seringnya pelabuhan Tuban dan Juana (Pati) disinggahi para
pelayar dari Banten. Kedua pelabuhan itu mempunyai kedudukan penting bagi
mataram dalam distribusi hasil pertanian dari pedalaman. Bahkan dengan
kebijaksanaan Mataram yang membagi empat Wilayah daerah pesisir, dua pelabuhan
tersebut mampu menandingi pelabuhan Semarang dan Jepara, terlebih lagi ketika
Jepara dipandang tidak aman lagi karena banyak terjadi pembajakan kapal.
Arti penting
hubungan ini bagi Al-Mutamakkin adalah dalam kepentingan perjalan
intelektualnya. Dapat diduga bahwa Al-Mutamakkin ikut berlayar ke Banten dan
disana ia ketemu dengan Ulama besar Muhammad Yusuf al maqasarri yang kemudian
ia melanjutkan ke negeri Timur Tengah. Dapat juga diduga sebelum sampai ke
Banten, ia Singgah di Tegal-Jawa Tengah. Hal ini didasarkan atas makam ayahnya
(Pangeran Benawa II) yang diyakini terdapat di Tegal. Bahkan di daerah tersebut
terdapat desa yang bernama Kajen.
Sepulang dari
Timur tengah, Al-Mutamakkin bisa jadi tidak langsung kembali ke Tuban,
melainkan ke sebuah desa di Pati bagian utara.
Di pati
bagian utara tepatnya wilayah kawedanan Tayu terdapat juga desa Cebolek. Desa
ini memang mempunyai historis tersendiri. Masyarakat setempat menuturkan bahwa
desa Cebolek merupakan desa yang di beri nama oleh Al-Mutamakkin diambil dari
kondisinya ketika terhempas di pantai yang dibawa oleh muridnya dari bangsa jin
kemudian dipindahkan di atas seekor ikan mladang dan “cebul-cebul melek”
(tiba-tiba terbuka matanya/terjaga)sepulang dari tanah suci Makkah.
Setelah
beberapa lama tinggal di desa Cebolek sampai pada waktu malam saat akan
menajalankan sholat Isya’ ia melihat seberkas sinar dari sebelah barat. Pagi
harinya setelah sholat Ashar berulah ia menuju sumber sinar yang ternyata di
sana telah ada seseorang yang bernama H, Syamsuddin atau Surya Alam yang
diyakini orang inilah sebagai empunya desa kajen.
Di tengah
desa kajen ke arah timur 50 meter dari makamnya, terdapat sebuah masjid
peninggalan Al-Mutamakkin yang berpola seperti masjid Demak.
Mimbar yang terbuat dari kayu jati yang dipahat rapi itu diyakini
masyarakt adalah buah karyanya sendiri. Mimbar ini dihiasi dengan pahatan
kepala naga yang berjumlah dua ekor di bagian depan, di dua sisi samping
pahatan gambar gajah, senjata cakra, burng dan teratai.
Menurut Husen Jabar,
lambang-lambang tersebut mengandung arti bahwa orang kajen harus berani
berlapar-lapar seperti ular naga, agar dia dapat mencapai tujuan tertinggi yaitu
meraih bulan seperti gambar burung mematuk bulan. Gambar samping yaitu gajah,
cakra dan taman dengan teratai burung menggambarkan orang kajen harus dapat
memerangi hawa nafsu yang berupa kemewahan duniawi.
Sedangkan di Mihrab masjid kajen diyakini terdapat kepala
ular naganya Aji Saka (tokoh legenda sejarah masuknya Islam di tanah jawa yang
di anggap peletak penanggalan tahun saka). Pada bagian kaligrafi di Mihrab ada
tulisan-tulisan arab dan lukisan perahu, enam pohon kelapa dan masing-masing pohon
memiliki lima buah tangkai daun (blarak). Di samping itu terdapat
kata-kata “Sang Pandita Kuwi Ngawang Bawana”. Dugaan Ahmad Syafi’I
Mufid, kata-kata ini adalah candrasangkala itu bertahun 1107 H, yang didasarkan
atas kata-kata ini adalah candrasangkala, tanda tahun berdirinya Masjid kajen.
Candrasangkala itu bertahun 1107H, yang didasarkan atas kata-kata sang pandita=7,
Ngawang=10, dan bawana=1. Bila disesuaikan dengan perhitungan Masehi bersamaan
dengan 1695. Hal ini juga diperkuat dengan kitan Asryul Muwahhidin yang
ditulis pada hari Rabu Kliwon tanggal sembilan bulan Rabiul Akhir dan
dilanjutkan dengan kata-kata, pertanda wongkang darbe primbon iki
(….tidak terbaca….) ing kajen. Ngalamat titinane patine mbah saman
ing dinten Isnain Kliwon tanggal pitulikur wulan Syawal tahun Zay. Artinya
tanda orang yang memiliki kitab ini … di kajen. Alamat tandanya meninggalnya
mbah Saman pada Senin Kliwon, 27 Syawal tahun Zay. Berdasarkan ilmu falak,
tahun dan tanggal yang dimaksud pada Senin Kliwon, 27 Syawal 1110 H, bertepatan
dengan 27 April 1699 M.
Di Masjid ini juga terdapat papan bersurat (tiga buah papan
bergandeng) dan Dauroh
(sebuah papan bertuliskan melingkar yang terdapat di langit-langit masjid).
Kedua papan tersebut penuh tingkat tinggi dan mempunyai susunan yang sarat
dengan nilai sufistik yang dalam.
Selain di Masjid Kajen, juga terdapat sumur peninggalannya di desa
bulumanis (sebelah timur desa Kajen)yang diyakini tidak akan habis airnya dan
tetap tawar meskipun hanya berjarak 1 km dari laut. Di depan pesareannya
(makamnya) juga terdapat batu besar yang diyakini sering digunakan sholat Dhuha
oleh Al-Mutamakkin. Baru tersebut disebut Pasujudan (tempat bersujud).
Di pintu makam Sunan Kudus terdapat tasbih besar dan sebuah kursi yang
di yakini juga peninggalannya, meskipun terdapat versi yang mengatakan kedua
barang itu adalah peninggalan sunan kudus. Kebenaran akan hal ini sulit
ditentukan tapi dapat dicatat di sini bahwa istri Sunan Kudus adalah masih ada
hubungan saudara dengan ibu Al-Mutamakkin dari Sayid Ali Bejagung.
Seperti halnya di depan masjid Cebolek Tuban, di sebelah barat pesarean
(makamnya) juga terdapat dua pohon sawo kecik yang cukup besar.
Masyarakat tidak berani menebangnya, karena diyakini jika kedua pohon ini
tumbang, akan terjadi banjir. Dan masih banyak lagi peninggalan-peninggalan
yang masing-masing mempunyai mitos yang tak kalah menariknya.
Yang paling penting dikemukakan disini adalah makam (dikenal
masyarakt sebagai Pesarean) Al-Mutamakkin. Makamnya dapat dilihat di
tengah desa kajen yang kini di pugar oleh keturunannya sehingga tampak luas dan
megah. Masayrakat di wilayah ini percaya bahwa Al-Mutamakkin adalah seorang syekh
dan waliyullah (saint), yang memiliki kekuatan supranatural (karamah).
Dia juga dipercayai sebagai penyebar Islam di wilayah ini.
Mengenai tahun wafatnya tidak diketahui secara tepat, tapi penulis
berasumsi ia wafat pada sekitar tahun 1740 (beberapa tahun setelah persidangan
selesai). Yang diketahui secara umum adalah pelaksanaan haul (peringatan
tahunan) nya setiap tanggal 10 Suro (Muharrom).